|
[04/01/06 18:05 WIB]
Dear Mbak Daysi,
Apa kabar? Salam kenal, aku baru
aza visit web architectnya mbak
Daysi, dan seneng banget waktu
lihat ada forum konsultasi
.
Mbak, aku mo ngerepotin boleh
ya?
Aku beli rumah oomku yang letaknya
di sebuah gang, ukuran 5,9 x 15,35,
aku pengin renovasi rumah tersebut
supaya bisa ditempati dengan nyaman.
Dan kebetulan danaku terbatas
aku pengin design untuk rumah
tumbuh, aku pengin rumah sehat
yang cukup pencahayaan seperti
yang diceritakan mbak Asrita sehingga
murah biaya listrik.
Karena rumah tersebut letaknya
disebuah gang jadi tidak perlu
adanya carport, yang penting bagus
sirkulasi udaranya karena tembok
kanan kirinya sudah berdampingan
dengan rumah tetangga yang bertingkat.
Tolong ya mbak advisenya untuk
bisa renovasi rumah ini mennjadi
rumah tingkat yang low cost dengan
void tepat diruang kelurga, ruang
yang aku perlukan 1 kamar tidur
utama, 2 kamar anak (karena anak
ku 2 orang), 1 kamar eyang (mamaku),
ruang keluarga, ruang makan 2
kamar mandi, tempat cuci dan jemu,
juga dapur, kalau bisa aku pengin
ada taman kecil di depan dan belakang
(layaknya rumah sehat)
Karena keterbatasan biaya aku
ingin lantai atas dibangun belakangan
(setalah dana terkumpul kembali),
juga mohon advisenya mbak Daysi
selama lantai atas belum dibangun
kira2 bagaimana pengaturan lantai
bawah supaya dapat di tempati
dengan nyaman.
Jika kira2 design rumah yang
aku ingin kan tidak memungkinkan
untuk lahan tersebut, aku mohon
dibuatkan design yang sesuai dengan
rumah sehat untuk lahan tersebut.
Bersama ini aku lampirkan denah
asal dari rumah tersebut dengan
perbandingan 1cm2 = 1m2. Sebelumnya
aku ucapkan terima kasih.
Regards,
Jeane - Jakarta
Denah
awal klik disini
Jawab :
Dear Jeane,
Setelah melihat denah rumah yang
bau dibeli mbak, saya senang sekali
jika bisa membantu mendesainkan
rumah tumbuh yang sehat di lahan
tersebut melihat denah saat ini
memang sangat tertutup. sehingga
tiga kamar di belakang kurang
mendapat cahaya dan udara alami.
Secara umum dinding2 lama tidak
banyak yang dirombak, terutama
bila strukturnya masih bagus dan
cukup untuk rumah tumbuh. Sebagai
tahap pertama bisa direnovasi
lantai 1 dulu, dan belakangan
ditumbuhkan menjadi dua lantai.
Fasad bangunan depan sengaja
saya mundurkan untuk memberi jarak
dengan gang yang merupakan tempat
publik, sehingga disamping mbak
Jeane bisa mempunyai taman depan
dan teras untuk duduk-duduk, privacy
pun lebih terjaga, dan tidak terlalu
ramai mendengar lalu lalang orang.
Terlebih kamar tidur utama saya
letakkan di depan untuk memudahkan
pengawasan anggota keluarga sekaligus
mendapatkan sumber udara dan cahaya.
Sementara kamar belakang digunakan
sebagai kamar eyang karena sebaiknya
lansia ditempatkan di kamar lantai
1 agar tidak perlu naik turun.
kamar ini sekaligus dekat dengan
kamar mandi baru dan diapit oleh
taman. Ruang keluarga dibuat bentuk
L dan menyambung dengan ruang
makan dengan sumber cahaya dan
udara dari taman belakang dan
taman dalam yang sengaja dibuat
(taman dalam ini penting lho,
jadi bagian atasnya diusahakan
tetap ada bukaan dan tembus cahaya
agar fungsinya tercapai). Di ruang
keluarga ini bisa diletakkan dua
buah sofa bed yang bisa difungsikan
sebagai tempat tidur untuk kedua
anak mbak Jeane (sayang saya kurang
tahu umurnya) yang pada tahap
pertama belum mendapatkan kamar
tidur khusus. Jika menginginkan
privacy maka pada garis putus-putus
bisa ditempatkan vertical blind/tirai
yang bisa ditutup untuk membagi
dua ruang keluarga menjadi "zona
tidur anak-anak" dan zona
yang masih bisa digunakan untuk
aktivitas keluarga terlebih masing-masing
zona memiliki lampu berbeda sehingga
bisa dipilih gelap terangnya sesuai
aktivitas yang dilakukan.. nantinya
jika lantai 2 rumah dibangun pun
sofa bed ini bisa digunakan juga
sebagai tempat tidur mereka berdua
di kamar masing-masing.
Pertimbangan banyaknya anggota
keluarga (lima orang : Jeane,
suami, dua anak, dan eyang) sementara
rumah dibangun bertahap membuat
kamar mandi bagian bawah sengaja
didesain terpisah wc dan kamar
mandinya. Sehingga pada satu waktu
bisa digunakan oleh dua orang
yang berbeda. Kamar mandi menggunakan
shower, dan wc menggunakan closet
duduk agar bisa juga digunakan
oleh eyang. Di antara ruang wc
dan shower diletakkan wastafel.
mengantisipasi ruang yang terbatas,
maka pintu wc dibuat membuka keluar,
dan pintu ruang shower berupa
pintu geser. Desain kamar mandi
dan wc ini juga cukup tersembunyi
jika dari ruang makan sehingga
tidak mengganggu aktivitas makan.
Tangga ke lantai dua direncanakan
untuk diletakkan memanjang di
dinding ruang keluarga, sehingga
di bawah tangga bisa diletakkan
lemari tv built in berlaci yang
juga bisa digunakan untuk menyimpan
baju dan buku anak-anak saat belum
mempunyai kamar sendiri. Lalu
dapur dan ruang cuci jemur diletakkan
di belakang berdampingan dengan
taman belakang sehingga saat memasak
asap bisa langsung ke udara bebas,
jemuranpun bisa kering.
Bangunan lantai duanya sendiri
terdiri dari dua kamar anak dengan
ukuran yang sama (salah satunya
mempunyai balkon), satu ruang
baca/belajar, satu kamar mandi
(sehingga jika perlu ke kamar
mandi mereka tidak perlu susah-susah
turun ke bawah), dan sebuah void
di atas ruang keluarga untuk memudahkan
pemantauan dan komunikasi antar
lantai, sekaligus tingginya plafond
akan mengurangi suhu ruangan dibawahnya.
Semoga menjawab kebutuhan mbak
Jeane.. kalau sudah mau dibangun
beri kabar ya!
Gambar
denah saran lihat di sini
|